ABUSIRAJ.COM, Sejarah Payung-Payung Raksasa di Masjid Nabawi dan Fungsinya yang Jarang Diketahui – Proyek pemasangan payung raksasa di Masjid Nabawi dimulai pada tahun 1992, sebagai bagian dari upaya perluasan dan peningkatan fasilitas masjid. Inisiatif ini diperkenalkan pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz. Pada tahap awal, beberapa payung dipasang untuk memberikan perlindungan tambahan bagi jamaah.
Pengembangan lebih lanjut terjadi pada era Raja Abdullah bin Abdul Aziz. Pada tahun 2010, proyek besar-besaran diluncurkan dengan memasang 250 payung raksasa berteknologi canggih di seluruh pelataran masjid, menjadikannya salah satu sistem peneduh luar ruangan terbesar di dunia.
Payung raksasa di Masjid Nabawi dirancang oleh perusahaan teknik Jerman, SL Rasch GmbH, yang juga bertanggung jawab atas desain payung serupa di Masjidil Haram, Makkah. Desainnya menggabungkan teknologi modern dengan elemen seni Islam, menciptakan struktur yang indah sekaligus fungsional.
Setiap payung memiliki tinggi sekitar 25 meter saat terbuka penuh dan mampu melindungi area seluas 600 meter persegi. Material kain payung terbuat dari bahan yang sangat kuat dan tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Fungsi utama payung raksasa ini adalah melindungi jamaah dari sinar matahari yang terik dan hujan, sehingga mereka dapat beribadah dengan lebih nyaman. Cuaca di Madinah yang panas, terutama saat mendekati bulan Ramadhan dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, membuat keberadaan payung ini sangat vital.
Selain itu, di pinggiran payung terdapat material berbentuk pita warna biru yang berfungsi menurunkan suhu di bawah payung hingga 8 derajat Celsius, menambah kenyamanan bagi jamaah.
Payung-payung ini dirancang untuk terbuka dan tertutup secara perlahan tanpa suara, membutuhkan waktu sekitar tiga menit untuk mencapai posisi penuh. Proses ini biasanya dilakukan setiap Subuh dan ditutup menjelang adzan Maghrib, menyesuaikan dengan intensitas sinar matahari dan kebutuhan jamaah.
Keindahan dan fungsi payung raksasa di Masjid Nabawi telah menginspirasi beberapa masjid di dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa masjid yang mengadopsi desain serupa antara lain Masjid Agung Jawa Tengah, Masjid Muammar Qaddafy di Sentul, dan Masjid Raya Baiturrahman di Aceh.